Apel Malang, Nasibmu Kini

By indonesiaberkabar

  • Petani apel Malang, sebagian mulai beralih ke tanaman lain. Dulu, hampir sebagian besar lahan pertanian tanam apel. Kini, berganti tanaman lain seperti jeruk pontianak, tebu dan pohon sengon, aneka bunga potong dan sayuran.
  •  Lahan tanaman apel di Kabupaten Malang pun menyusut semula 1.016 hektar, tersisa 370 hektar. Alih lahan apel ke tanaman lain terjadi sejak 2011.
  •  Perubahan iklim berdampak nyata pada tanaman apel. Kini, di Malang, suhu udara bisa sampai 32 derajat celsius. Rekor terdingin di Malang pada Agustus 1994 mencapai 11,3 derajat celsius. Temperatur udara menghangat hingga apel tak berbuah. Apel hanya tumbuh baik dan berbuah pada suhu antara 16-27 derajat celsius.  Dulu, apel tumbuh subur di daerah dengan ketinggian 800 mdpl, kini terus naik hingga di daerah ketinggian 1.200 mdpl.
  •  Suslam Pratamaningstyas, pakar pertanian Universitas Widyagama Malang mengatakan, suhu permukaan bumi makin meningkat. Kondisi ini berdampak terhadap budidaya apel. Dulu, apel Malang produktif di lahan dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pada ketinggian itu produksi apel terus turun. Suhu hangat dan lembab jadi media efektif penyakit dan hama berkembang biak.

Udara sejuk pegunungan terasa saat memasuki Desa Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sebuah daerah di Kaki Gunung Semeru dan Gunung Bromo. Hamparan pohon jeruk dan apel tampak di tepi jalan menuju desa dengan penduduk sebagian besar petani ini.

Sebagian pohon apel tampak berbuah. Ada apel jenis room beauty, manalagi, wangling dan anna. Lahan apel di Kecamatan Poncokusumo tersebar di Desa Poncokusumo, Gubukklakah, dan Pandansari.

Di berketinggian 700 meter di atas permukaan laut (mdpl) sampai 1.000 mdpl ketiga jenis apel ini yang ditanam petani secara turun temurun. Selain di Poncokusumo, apel juga tumbuh di Nongkojajar, Pasuruan berada di Kaki Gunung Bromo dan Kota Batu, lereng Gunung Arjuno. Apel di iklim tropis ditanam sejak masa kolonial Belanda.

Dulu, hampir sebagian besar lahan pertanian tanam apel. Kini, apel mulai menyusut. Berganti tanaman lain seperti jeruk Pontianak, tebu dan pohon sengon, aneka bunga potong dan sayuran. Ponsokusumo, salah satu pemasok apel.

Irwandi, Kepala Desa Poncokusumo, menjelaskan, banyak alasan petani meninggalkan apel, beralih menanam jeruk. Dia bilang, banyak apel tua, akar rusak, terserang hama penyakit dan produktivitas turun. Kalau dulu, satu pohon menghasilkan sekitar 100 kilogram, kini sekitar 30 kilogram. Pohon apel lebih 30 tahun, tak ada peremajaan.

“Biaya produksi terus melonjak, produktivtas rendah, sedangkan harga apel tak menarik,” katanya. Jadi banyak petani memilih membongkar apel, ganti dengan tanaman lain yang lehih menguntungkan.

Irwandi dan keluarga sebelumnya juga menanam apel, kini berganti jeruk pontianak.

Musim panen raya apel pada Januari sampai Maret. Bahkan, buah apel bisa panen sepanjang musim tergantung masa pangkas daun. Saat daun bersemi, dibarengi musim apel berbunga. Produksi apel selama ini dikirim ke pasar di Surabaya, Semarang, Yogyakarta dan Jakarta.

Lahan tanaman apel di Kabupaten Malang pun menyusut semula 1.016 hektar, tersisa 370 hektar. Alih lahan apel ke tanaman lain terjadi sejak 2011.

“Pemerintah tak bisa memaksa petani pertahankan tanaman apel,” katanya.

Lantaran petani terus merugi, dan tanaman hancur. Pemerintah tak memberikan subsidi atau bantuan untuk petani apel. Kini, apel sulit jadi tumpuan hidup petani.

 

Produkvitivitas apel malang menyusut, harga pun tak menggiurkan di tingkat petani. Foto: Eko Widianto/ Mongabay Indonesia

 

Petani, katanya, tak memiliki jiwa kewirausahaan. Selama ini, tak ada petani yang mengolah buah apel. Sebagian besar memilih langsung menjual buah apel melalui tengkulak. Olahan buah apel terbatas jadi keripik dan dodol. Sejumlah petani pernah uji coba mengolah buah apel menjadi minuman wine apel. Sayangnya, terhambat perizinan hingga petani tak melanjutkan produksi.

“Sulit mendapat izin pengolahan minuman beralkohol,” katanya. Padahal, keuntungan besar di depan mata. Setiap liter wine seharga Rp50.000. Padahal, wine apel bisa dijual di tempat yang memiliki izin penjualan minuman beralkohol seperti hotel dan restoran. Petani pun memiliki nilai tambah dari tanam apel.

 

Masa keemasan

Apel yang ditanam di lahan tropis, pertama di Asia Tengah. Lantas menyebar ke kawasan lain termasuk di Poncokusomo, Nongkojajar dan Batu. Apel budidaya jenis Malus domestica keturunan Malus sieversii sebagian genom Malus sylvestris atau apel liar. Apel masuk ke Indonesia sekitar 1930-an dibawa peneliti dan petani dari Belanda dan Australia.

Departemen Pertanian pada 1953 mendatangkan beberapa jenis apel dari luar negeri, antara lain Rome beauty dan princess noble. Pada 1960, apel berkembang pesat jadi primadona petani. Apel memasuki masa keemasan pada 1970-an-1980-an.

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) pada 1984 mencatat 7,3 juta pohon pada 1988 berkembang jadi 9 juta pohon. Produksi apel naik dari 146.690 ton jadi 275.065 ton. Balitjestro mengoleksi plasma nutfah apel sekitar 73 varietas.

Serangan hama dan penyakit jadi tantangan petani apel, seperti penyakit embun tepung (0idium sp.) karena jamur Pospaera leucotrich. Pada 1985 hampir 90% apel di Batu—dulu masuk Kabupaten Malang– terserang Pospaera leucotrich hingga produktitas turun.

Rata-rata produksi apel di Poncokusumo per tahun selama 15 tahun terakhir 606.000 kwintal dengan produktivitas 66,16 kilogram per pohon. Produksi apel bahkan pernah 2.000 ton, dengan produktivitas terendah pada 2011 sebesar 2,54 kwintal per pohon.

Apel jadi komoditas sekaligus identitas Kabupaten Malang. Sebagian besar apel mati atau terserang penyakit jamur akar putih, kanker batang, kutu sisik dan virus.

“Rata-rata petani memiliki lahan seluas 0,25 hektar,” kata Budi Widodo, Kepala Seksi Pembenihan dan Perlindungan Holtikultura, Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang.

 

Panen apel Malang, bilang terus menerus. Caranya? Foto: Eko Widianto/ Mongabay Indonesia
Petani apel malang, sebagian mulai beralih ke tanaman lain. Dulu, hampir sebagian besar lahan pertanian tanam apel. Kini, berganti tanaman lain seperti jeruk pontianak, tebu dan pohon sengon, aneka bunga potong dan sayuran. Foto: Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Foto: Eko Widianto/ Mongabay Indonesia

 

Perubahan iklim

Anung Suprayitno, Prakirawan Stasiun Klimatologi Karang Ploso, Badan Metrologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, terjadi tren kenaikan suhu rata-rata 0,5 derajat celsius per tahun. Dalam 10 tahun terus kenaikan suhu udara di Malang.

“Pemanasan global memicu perubahan iklim, peningkatan suhu lingkungan,” katanya.

Perubahan iklim, kata Anung, nyata terjadi, dengan penyebab, antara lain, kenaikan suhu linier bersamaan dengan perilaku manusia hingga ruang terbuka hijau makin menyusut, efek rumah kaca, gas buang kendaraan dan industri. Laju peningkatan polusi udara, katanya, juga turut meningkatkan suhu udara.

Kini, di Malang suhu udara bisa sampai 32 derajat celsius. Rekor terdingin di Malang pada Agustus 1994 mencapai 11,3 derajat celsius.

Suhu udara terus meningkat dampak perubahan iklim. Temperatur udara menghangat hingga apel tak berbuah. Apel hanya tumbuh baik dan berbuah pada suhu antara 16-27 derajat celsius.

Dulu, apel tumbuh subur di daerah dengan ketinggian 800 mdpl, kini terus naik hingga di daerah ketinggian 1.200 mdpl.

Apel poncokusumo pada 2003 tersebar di Dusun Wonorejo dan Simpar sampai 600 hektar. Sejak 2018, kebun apel berubah jadi aneka tanaman lain sayuran, bunga dan jeruk. Kini, apel tersebar di Poncokusumo dan Gubuk Klakah pada ketinggian 2.000 mdpl.

“Pengaruh perubahan iklim nyata, fisik buah tak bagus. Tak normal, buah kecil dan rasa keras,” kata Budi.

Pamor apel malang juga terus kalah dibandingkan impor dari Tiongkok dan Amerika.

Apel merupakan tanaman sub tropis yang ditanam di iklim tropis. Pada musim gugur, buah berguguran, saat semi bunga bermekaran dan menghasilkan apel. Pada iklim tropis, petani merekayasa dengan merontokkan daun dengan rangsangan obat-obatan.

“Di sini, apel dipaksa berbuah. Setahun bisa dua kali,” katanya.

Keperluan nutrisi apel di tanah kurang hingga tanaman kurang subur dan tak menghasilkan buah optimal.

Untuk mempertahankan, kata Budi, perlu penelitian guna mencari jenis yang cocok dan bertahan di suhu tertentu, termasuk tahan kondisi tanah dan bisa beradabtasi dengan suhu.

“Perlu peremajaan apel yang tahan dengan perubahan iklim,” katanya.

 

Sebagian besar petani pakai pestisida kimia untuk merawat tanaman apel mereka. Pola tanam organik mulai dikenalkan. Foto: Eko Widianto/ Mongabay Indonesia

 

Organik dan pengendalian hama terpadu

Dinas Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang sejak 2010 mendengungkan penggunaaan pupuk organik dan pestisida nabati agar tanaman lebih panjang umur dan sehat. Petani dilibatkan dalam Sekolah Lapangan Pengendalian hama Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapang Good Agriculture Practice (SL-GHP). Mereka mengajak petani bijak gunakan pupuk kimia atau tak berlebihan pestisida kimia.

Secara teknologi petani bisa menggunakan pestisida alami untuk mengusir hama dan penyakit seperti daun sirsak, tembakau dan toba. Pengendalian hama terpadu, katanya, tak bisa sendirian, harus bersama-sama dalam sebuah kawasan.

Sebanyak 25 petani rutin mengikuti sekolah lapang setiap pekan. Budi berharap, petani mengembangkan metode ini dan bisa menularkan ke petani lain.

“Baru melibatkan 15-20% petani.”

Aksi ini, katanya, harus melibatkan semua pihak, termasuk  pemerintah karena perlu regulasi seperti peraturan daerah dan anggaran untuk memberi subsidi petani, macam pengadaan bibit baru berkualitas dan mengalihkan petani tak pakai pestisida atau gunakan pupuk alami.

Dia bilang, juga perlu keterlibatan swasta untuk menerima hasil panen dengan harga stabil. Kini, harga apel di tingkat petani sekitar Rp10.000-Rp12.000 per kilogram.

Suslam Pratamaningstyas, pakar pertanian Universitas Widyagama Malang mengatakan, suhu permukaan bumi makin meningkat. Kondisi ini berdampak terhadap budidaya apel. Dulu, apel malang produktif di lahan dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pada ketinggian itu produksi apel terus turun. Suhu hangat dan lembab jadi media efektif penyakit dan hama berkembang biak.

“Peningkatan suhu udara menimbulkan beraga hama dan penyakit,” katanya.

Para petani pun, katanya, menggunakan pestisida kimia untuk menangani hama dan penyakit. Pestisida kimia ini juga menyebabkan dampak buruk bagi tanah dalam jangan panjang. Pestisida meresap ke tanah.

“Menghentikan penggunaan pestisida sintetis, sulit. Kompromi mengombinasi pestisida sintetis dan pestisida hayati,” katanya.

Kalau tak menggunakan pestisida sintesis petani khawatir gagal panen dan mereka sebagian besar bertumpu ke apel sebagai andalan pendapatan keluarga.

Bagaimana nasib apel malang ke depan?