Apakah Keramas Setiap Hari Aman Bagi Rambut? Ini Jawabannya

Aktivitas sehari-hari yang sangat padat kerap kali membuat rambut menjadi terasa lepek atau bahkan terasa kotor. Kondisi rambut yang lepek ini membuat Anda ingin melakukan keramas setiap hari, khususnya di sore atau malam hari. Lantas, apakah keramas setiap hari aman dilakukan?

Seperti halnya membersihkan bagian tubuh yang lain, aktivitas membersihkan rambut dan kulit kepala adalah sesuatu yang wajib dilakukan. Namun keramas tiap hari berisiko membuat kulit kepala gatal, kulit kepala terasa kencang, menjadi kering akibat hilangnya pelembap rambut, hingga muncul ketombe.

Keramas setiap hari akan membuat rambut menjadi lebih kering dan kusam mengingat minyak alami dari kulit kepala benar-benar sudah hilang dan tidak melapisi rambut sama sekali.

Apakah keramas setiap hari baik? Beberapa pakar mengatakan, idealnya rambut sebaiknya dicuci 2 hari sekali namun pada beberapa orang, keramas setiap hari diperlukan untuk menjaga kondisi rambutnya.

Pada intinya, kebutuhan keramas setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang akan baik-baik saja kondisi rambut dan kulit kepalanya saat tidak keramas beberapa hari, namun ada juga orang yang rambutnya akan lepek saat tidak keramas setiap hari. Jadi jika ada pertanyaan apakah keramas setiap hari bagus atau tidak? Semua disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.

Pakar kesehatan menyarankan untuk tidak keramas setiap hari jika ingin menjaga kesehatan rambut dan kulit kepala. Seandainya kondisi rambut Anda mengharuskan keramas setiap hari, gunakan sampo dengan bahan kimia yang ringan.

Selain itu, cobalah melapisi rambut dengan serum yang bisa menjaga kesehatan rambut dan membuatnya lebih lembut. Dengan memakai serum atau vitamin rambut ini, maka rambut pun akan mendapatkan nutrisi dan mendapatkan pengganti lapisan minyak alami sehingga tidak akan mudah terkena masalah rambut kering atau kusam.

Jika Anda masih ragu dan masih memendam pertanyaan apakah baik keramas setiap hari? Terdapat beberapa hal yang perlu Anda pahami dalam menentukan seberapa sering Anda keramas, di antaranya:

1. Jenis kulit rambut

Pilihan untuk keramas setiap hari atau tidak yang utama didasarkan pada jenis kulit rambut yang Anda miliki. Jika kondisi kulit kepala sangat berminyak, Anda disarankan untuk keramas tiap hari tanpa perlu khawatir hal itu bisa merusak rambut.

Sedangkan, jika jenis kulit dan rambut Anda adalah normal (tidak berminyak parah dan tidak super kering) atau cenderung kering, Anda hanya perlu keramas 1-2 kali dalam seminggu. Namun, jika Anda memiliki kulit kepala berminyak namun tidak berlebihan, Anda bisa keramas setidaknya dua hari sekali. drama korea sedih

Hal penting lain yang harus Anda ketahui adalah faktor umur memiliki peran penting dalam memengaruhi jumlah sebum yang diproduksi. Semakin bertambahnya usia, kulit kepala akan menghasilkan sebum yang lebih sedikit. Kondisi ini membuat Anda tidak perlu keramas setiap hari.

2. Tekstur rambut

Tekstur rambut Anda ternyata memengaruhi kecepatan sebum pada rambut dan kulit kepala menuju akar rambut. Pada rambut yang kasar atau keriting, sebum akan lebih lambat dalam mencapai akar rambut. Bagi Anda yang memiliki rambut keriting atau kasar, keramas setiap hari tidak perlu dilakukan.

Sedangkan, bagi Anda yang memiliki rambut bergelombang, dianjurkan untuk keramas tiga kali seminggu. Sementara bagi Anda yang memiliki rambut lurus, dianjurkan keramas setiap hari.

3. Ketebalan rambut

Orang yang memiliki rambut tipis atau sering berolahraga dianjurkan untuk keramas setiap hari. Mereka dengan rambut tipis lebih rentan untuk memiliki minyak di kulit dan rambut yang berlebih, sehingga membuatnya harus keramas setiap hari. Sedangkan orang dengan tipe rambut tebal, dianjurkan untuk keramas beberapa kali sehari.

4. Penataan rambut

Tidak puas dengan kondisi rambut yang dimiliki, banyak orang terutama wantia untuk mencoba berbagai mannequin dengan mewarnai rambut, meluruskan rambut atau beberapa perubahan-perubahan pada rambutnya. Jika Anda memiliki kebiasaan memermak rambut, dianjurkan untuk keramas setiap hari.

Merawat Rambut Agar Tetap Sehat

Setelah Anda mengetahui kesimpulan dari keramas setiap hari bagus atau tidak, kini saatnya untuk mengetahui bagaimana cara merawat rambut agar tetap sehat, di antaranya:

1. Memulai perawatan dari kulit kepala

Cara merawat rambut agar sehat dan berkilau dapat dimulai dengan tidak melupakan kesehatan kulit kepala. Menurut pakar, folikel rambut dipengaruhi oleh kesehatan dan pasokan darah dari jaringan kulit di sekitarnya. Jadi, bisa dibilang kulit kepala adalah kunci rambut sehat. drakorinfo

Pilihlah produk perawatan yang yang mengandung fatty alcohol atau bertuliskan stearyl, cetyl, dan myristyl. Saat keramas pijat kulit kepala selama 30 detik. Memijat kulit kepala mampu meningkatkan sirkulasi darah dan merangsang folikel rambut untuk bertumbuh. Selain itu, lindungi selalu kulit kepala dari dari sinar ultraviolet.

2. Perawatan saat keramas

Pilihlah sampo yang sesuai karakter rambut (berminyak, kering, regular) dan masalah rambut lain yang dialami. Hindari sampo yang mengandung bahan seperti sodium lauryl sulfate atau ammonium lauryl sulfate. Agar minyak alami pada rambut dapat hilang sempurna, Anda disarankan keramas menggunakan air hangat.

3. Perawatan usai keramas

Rambut basah lebih rentan mengalami kerusakan. Oleh karenanya, Anda disarankan untuk tidak menyisir rambut saat masih basah. Tata rambut ketika sudah kering dan biarkan rambut kering dengan sendirinya.

4. Vitamin rambut dan asupan harian

Selain perawatan langsung pada rambut yang bisa memengaruhi kondisinya, apa yang Anda konsumsi juga bisa berpengaruh pada kesehatan rambut. Demi menjaga kesehatan rambut, Anda dianjurkan untuk mengonsumsi telur, ikan, kacang, daging, kacang-kacangan, kerang, salmon, sarden, keju dan yoghurt. Selain itu, Anda juga bisa mengonsumsi suplemen biotin untuk membantu mencegah kerontokan rambut.

Apakah Vitamin C Dapat Mengobati Jerawat?

Jerawat vulgaris atau yang lebih dikenal dengan jerawat adalah kondisi kulit yang dapat menyebabkan jerawat dan kulit berminyak. Di Amerika Utara, hampir 50% remaja dan 15 – 30% orang dewasa mengalami gejala ini. Banyak orang menggunakan krim topikal, obat-obatan, makanan, dan suplemen untuk membantu menghilangkan jerawat. Bahkan, vitamin C sering ditambahkan ke banyak produk perawatan kulit dengan tujuan untuk mengatasi dan mengobati jerawat. Namun anda mungkin bertanya-tanya, apakah vitamin C benar-benar efektif untuk mengobati jerawat? Artikel ini akan menjelaskan apakah vitamin C dapat mengobati jerawat.

Vitamin C dan Skin care

Vitamin C secara ilmiah dikenal dengan asam askorbat, vitamin C adalah vitamin yang larut dalam air dan sangat penting untuk berbagai aspek kesehatan termasuk untuk kesehatan kulit. Tubuh tidak memproduksi vitamin C sehingga jika ingin mendapatkannya bisa melalui diet. Vitamin C juga merupakan antioksidan kuat yang membantu menetralkan radikal bebas, yang merupakan senyawa tidak stabil yang dapat merusak sel-sel tubuh dari waktu ke waktu. Radikal bebas yang ada di kulit anda bisa disebabkan karena paparan dari lingkungan internal maupun eksternal. Faktor lain dari munculnya radikal bebas adalah diet, stress, merokok, sinar ultraviolet (UV), dan polusi yang semua hal tersebut akan memengaruhi kesehatan kulit.

Epidermis atau lapisan kulit terluar anda harus memiliki kandungan vitamin C yang tinggi. Kandungan nutrisi ini akan berperan penting dalam melindungi, menyembuhkan, dan memproduksi kulit baru. Karena jerawat adalah kondisi yang sangat meradang dan dapat diperburuk oleh faktor lingungan, vitamin C dapat berperan dalam mengobatinya.

Bagaimana Pengaruh Vitamin C Pada Jerawat?

Jerawat adalah kondisi kulit peradangan kulit yang disebabkan oleh tersumbatnya pori-pori. Jerawat akan menyebabkan kemerahan, pembengkakan, dan kadang menyebabkan pustula yang merupakan benjolan yang mengandung nanah. Jerawat juga membuat banyak orang akan mengalami bekas luka pasca inflamasi dan kerusakan kulit. Namun penelitian menunjukkan bahwa vitamin C dapat mengobati beberapa kondisi ini.

Perlu diingat bahwa meskipun asupan makanan kaya vitamin C yang tinggi dapat membantu  kesehatan kulit, tidak ada penelitian yang mengaitkan diet vitamin C dengan penurunan tingkat jerawat. Meskipun begitu, penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi topikal (yang dilakukan dengan cara oles) vitamin C dapat membantu.

Dapat Mengurangi Peradangan Akibat Jerawat

Usia, genetika, dan hormon adalah faktor utama resiko seseorang dapat berjerawat. Selain itu keadaan tertentu seperti bakteri kulit atau Cutibacterium Acnes dapat memicu jerawat. Dikarenakan vitamin C bersifat anti inflamasi, vitamin C dapat membantu mengurangi kemerahan dan pembengkakan yang diakibatkan oleh jerawat saat digunakan secara topikal. Dalam studi 12 minggu pada 50 orang, 61% peserta yang enggunakan lotion dengan kandungan 5% natrium ascorbyl fosfat (SAP) ternyata mengalami peningkatan yang signifikan dalam pengobatan jerawat dibandingkan dengan kelompok lainnya. Dalam studi 8 minggu pada 30 oang, mereka yang menggunakan 5% SAP mengalami pengurangan 48,8% pada jerawat. Terlebih lagi mereka yang menggunakan kombinasi SAP dan retinol 2% mengalami penurunan 63,1%. Meskipun hasil penelitian ini menjanjikan, namun masih memerlukan studi berkualitas tinggi untuk membuktikannya.

Dapat Mengurangi Bekas Jerawat 

Setelah munculnya jerawat, kulit anda pasti masih membutuhkan waktu untuk sembuh. Bekas jerawat akan berkembang tanpa penyembuhan yang tepat. Bekas jerawat biasanya akan muncul karena jerawat yang parah, tapi bisa juga diakibatkan oleh kasus-kasus ringan. Selain itu, jerawat berkepanjangan, genetika, dan mmanipulasi fisik seperti memencet atau menekan jerawat dapat meningkatkan kemungkinan adanya bekas jerawat. Tiga jenis utama dari bekas jerawat adalahatrofi, hipertrofi, dan keloidal.

Bekas luka atrofik menyebabkan hilangnya jaringan kulit dan kolagen dan muncul sebagai lekukan kecil di kulit. Baik bekas luka hipertrofik dan keloidal akibat kelebihan kolagen akan tampak sebagai bekas luka yang tebal dan menonjil. Vitamin C merawat bekas jerawat dengan cara meningktakan sintesis kolagen, protein yang bertanggung jawab untuk struktur kulit yang akan membangun kulit kembali sehat. Dengan cara tersebut, vitamin ini dapat mempercepat penyembuhan bekas luka jerawat.

Sebuah studi yang dilakukan selama 4 minggu pada 30 orang mencatat peningkatan penyembuhan pada bekas jerawat setelah menggunakan microneedling bersama dengan krim topikal 15% vitamin C dalam satu kali seminggu. Namun tidak diketahui apakah microneedling, vitamin C, atau kombinasi keduanya yang berperan baik dalam hasil studi ini. Selain itu, vitamin C dan microneedling tidak cocok untuk bekas luka hipertrofik dan keloid karena jenis ini dihasilkan dari adanya kolagen yang berlebih. Meskipun tidak ada penelitian yang mengaitkan vitamin C yang diminum atau dimakanan akan menyebabkan jerawat berkurang, namun vitamin C yang diminum atau dimakan ini akan meningkatkan produksi kolagen alami dalam tubuh dan bermanfaat bagi kesehatan kulit secara keseluruhan.

Apakah Tanaman Hidroponik Lebih Sehat Dari Sayur Biasa?

Belakangan ini banyak metode penanaman sayuran bermunculan. Salah satunya adalah metode penanaman hidroponik. Beberapa orang mengklaim menanam sayuran dengan cara hidroponik dapat meningkatkan nutrisinya, sehingga tanaman hidroponik lebih sehat daripada sayuran yang ditanam dengan cara biasa. Namun, apakah benar sayuran hidroponik lebih sehat?

Apa itu sayuran hidroponik?

Sayuran hidroponik adalah sayuran yang tumbuh dengan bantuan cairan yang mengandung mineral yang diperlukan oleh sayuran untuk tumbuh. Berbeda dengan sayuran lainnya yang membutuhkan tanah untuk tumbuh, tanaman hidroponik hanya membutuhkan air bermineral untuk tumbuh. Air yang digunakan untuk menanam sayuran ini pun bisa didaur ulang.

Selain air dan mineral, tanaman hidroponik juga membutuhkan lampu, sistem filtrasi untuk air dan udara, serta alat kontrol iklim. Semua hal ini diperlukan untuk menunjang pertumbuhan tanaman hidroponik. Biasanya, sayuran hidroponik ditanam dalam rumah kaca maupun di luar ruangan.

Apa kelebihan sayuran hidroponik?

Karena tanaman hidroponik sangat dijaga cara dan tempat penanamannya, serta tidak membutuhkan tanah, maka sayuran hidroponik tidak perlu penggunaan pestisida untuk melindunginya dari serangan hama serangga. Jadi, kebanyakan produk tanaman hidroponik adalah juga organik.

Selain itu, keuntungan menanam secara hidroponik lainnya adalah:

  • Hanya memerlukan lebih sedikit air dibandingkan cara konvensional, sehingga biaya untuk air lebih sedikit juga
  • Nutrisi, kelembapan (pH), dan lingkungan sebagai tempat tumbuhnya bisa dikontrol
  • Sayuran tumbuh lebih cepat karena oksigen (dari air) lebih banyak tersedia di daerah akar
  • Hasil panen lebih banyak
  • Bisa ditanam di mana saja, tidak memerlukan lahan yang luas untuk menanamnya
  • Tidak memerlukan budidaya atau penyiangan
  • Rotasi tanaman juga tidak diperlukan
  • Beberapa tanaman, seperti selada dan stroberi, dapat dikondisikan dengan baik hingga mencapai ketinggian yang lebih baik untuk penanaman, budidaya, dan panen.

Apa kekurangan sayuran hidroponik?

Di balik semua kelebihannya itu, tentu tanaman hidroponik juga memiliki beberapa kekurangan.

  • Walaupun tanaman hidroponik memiliki risiko lebih kecil untuk terkena hama, tetapi tidak menutup kemungkinan tanaman hidroponik bisa mengalami sedikit masalah hama.
  • Beberapa penyakit, seperti Fusarium dan Verticillium, dapat menyebar dengan cepat melalui sistem.
  • Keterampilan dan pengetahuan diperlukan untuk menanam tanaman hidroponik dengan baik. Tanaman hidroponik membutuhkan suhu, kelembapan, dan jumlah cahaya yang harus dikontrol setiap waktu.
  • Membutuhkan biaya operasional yang tinggi dibandingkan tanaman konvensional. Tanaman hidroponik memerlukan kontrol cahaya yang membutuhkan banyak energi dan masih banyak biaya lain yang dipakai untuk mengontrol pertumbuhan tanaman hidroponik.

Apakah sayuran hidroponik lebih sehat?

Belum bisa dibuktikan bahwa sayuran hidroponik memiliki nutrisi yang lebih tinggi daripada sayuran yang ditanam dengan metode lain, walaupun mungkin penelitian dalam skala kecil telah menunjukkan ha tersebut. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Organic Center tahun 2008 yang membuktikan bahwa nutrisi dalam tanaman organik melebihi nutrisi yang ada dalam tanaman konvensional. Begitu pula dalam penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal Practical Hydroponics & Greenhouses tahun 2000 yang menunjukkan bahwa tanaman hidroponik lebih unggul dalam segi nutrisi dan rasanya dibandingkan tanaman konvensional, tergantung nutrisi yang diberikan saat penanaman tanaman hidroponik tersebut.

Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa sayuran hidroponik memiliki nutrisi yang sama dengan sayuran yang tumbuh dengan metode konvensional. Selama sayuran hidroponik memiliki nutrisi (khususnya mineral dalam air) yang memadai untuk pertumbuhannya, juga mendapatkan cahaya dan udara yang cukup, maka sayuran hidroponik dapat tumbuh dengan baik dan memiliki nutrisi yang baik.

Namun, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa sayuran yang ditanam secara hidroponik juga dapat memiliki nutrisi yang lebih sedikit dibandingkan dengan sayuran konvensional, walaupun mungkin jumlah penelitian ini baru sedikit. Seperti pada penelitian dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry tahun 2003 yang menunjukkan bahwa kandungan karotenoid dalam sayuran hidroponik lebih rendah dibandingkan dengan sayuran yang ditanam secara konvensional.

Perlu diingat bahwa nutrisi dan fitokimia dalam sayuran yang ditanam secara hidroponik memiliki kandungan yang bervariasi tergantung dari berbagai faktor, seperti varietas tanaman, musim, kapan sayuran tersebut dipanen, dan bagaimana sayuran tersebut ditangani dan disimpan setelah dipanen. Penanganan dan penyimpanan sayuran setelah dipanen turut mempengaruhi nutrisinya. Penyimpanan yang buruk dapat menurunkan nutrisi yang terkandung dalam sayuran.

Apakah Penyakit Rematik Bisa Sembuh Total? Begini Penjelasannya

Rematik yang dalam bahasa medis disebut dengan rheumatoid arthritis adalah salah satu jenis arthritis yang paling umum. Penyakit ini termasuk penyakit autoimun yang tidak boleh disepelekan begitu saja. Oleh karena itu, ada berbagai macam pengobatan yang bisa dijadikan pilihan guna meredakan gejala. Namun, apakah ini menjamin kalau penyakit rematik bisa sembuh total? Begini penjelasannya.

Mungkinkah penyakit rematik bisa sembuh total?

Rematik terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya berperan dalam melindungi penyakit, justru berbalik menyerang area persendian yang sehat. Inilah yang dikenal sebagai penyakit autoimun. Akibatnya, akan timbul peradangan yang membuat persendian menjadi kaku, nyeri, hingga membengkak.

Pada kasus yang lebih serius, rematik juga bisa memicu masalah pada jaringan dan organ tubuh lainnya, meliputi saraf, pembuluh darah, otak, jantung, paru-paru, ginjal, dan sistem pencernaan.

Hingga saat ini, memang ada berbagai macam pengobatan yang diyakini bisa meredakan gejala rematik. Sayangnya, masih diperlukan penelitian lebih lanjut guna menemukan obat mujarab agar rematik bisa sembuh total. Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bahwa belum ada obat yang benar-benar cocok untuk mengobati radang sendi akibat rematik.

Meski begitu, diagnosis sejak dini dan perawatan yang tepat merupakan hal penting untuk mencegah agar rasa sakit dan kerusakan sendi tidak jadi semakin parah.

Seorang ahli rematik dan spesialis penyakit dalam asal Amerika Serikat, dr. Scott J. Zashin menuturkan bahwa obat dan perawatan yang sesuai nyatanya mampu memengaruhi perkembangan penyakit rematik dalam tubuh. Dalam artian, diagnosis yang cepat disertai dengan pengobatan rematik yang tepat akan semakin memungkinkan penderita rematik untuk memasuki fase remisi.

Remisi adalah sebutan ketika tanda-tanda penyakit rematik hilang sebagian ataupun menyeluruh. Penderita yang telah berada di tahap ini bisa tetap melanjutkan pengobatan atau menghentikan sebagian.

Intinya, penyakit rematik memang belum bisa disembuhkan seratus persen. Namun, penyakit ini masih bisa dikontrol demi memperbaiki gejala dan memperlambat perkembangan penyakit. Dengan begitu, fungsi sendi dapat lebih terjaga sehingga meminimalisasi kerusakan pada sendi dan organ tubuh.

 

Lantas, apa saja pengobatan yang bisa dilakukan untuk rematik?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, meski belum ada pengobatan yang benar-benar menjanjikan rematik bisa sembuh total, tapi setidaknya perawatan yang ada sekarang ini masih mampu mengontrol perkembangan penyakit rematik di dalam tubuh.

Anda akan disarankan dokter untuk minum obat, tergantung dari gejala dan tingkat keparahan penyakit rematik. Dilansir dari laman Mayo Clinic, jenis obat yang dimaksud yakni:

  • Obat pereda nyeri nonsteroid (NSAID). Tujuannya untuk meredakan nyeri dan peradangan akibat rematik.
  • Steroid. Obat ini dipercaya dapat mengurangi peradangan sekaligus memperlambat kerusakan pada sendi. Umumnya, obat steroid akan diberikan jika gejala rematik tergolong akut.
  • Disease-modifying antirheumatic drugs (DMARD). Obat ini meliputi methotrexate (Trexall, Otrexup, Rasuvo), leflunomide (Arava), hydroxychloroquine (Plaquenil), dan sulfasalazine (Azulfidine). Berperan dalam menghambat perkembangan rematik serta menjaga sendi dan jaringan lain dari kerusakan permanen.
  • Biologic agents. Biasanya dikenal sebagai obat pengubah respons biologis atau DMRAD biologis. Prosedur ini hanya bekerja pada area yang mengalami peradangan, bukan memblokir seluruh sistem kekebalan tubuh.

Selain itu, dokter juga akan menyarankan Anda untuk melakukan terapi fisik guna membantu melemaskan persendian yang kaku.

Namun, jika perawatan dengan terapi dan obat dirasa tidak cukup mampu untuk mengontrol perkembangan rematik, langkah selanjutnya yang mungkin diambil dokter adalah dengan melakukan operasi pembedahan. Pembedahan bertujuan untuk memperbaiki sendi yang rusak sehingga bisa kembali digunakan secara optimal.

Nah, bukan berarti Anda hanya mengandalkan beberapa cara-cara tersebut saja. Penting juga untuk menerapkan pola hidup sehat dengan olahraga ringan, istirahat yang cukup, hingga makan teratur untuk meningkatkan kualitas hidup Anda.